"Setelah perjalanan panjang, Huda tiba di sebuah pesantren budaya terpencil yang kini hanya dihuni tiga santri tua. Sejak wafatnya sang kyai, mereka hidup dalam ketakutan dan kebingungan—tak berani memimpin ibadah, saling tunjuk, dan tak tahu siapa yang layak meneruskan pesantren.
Kedatangan Huda menggoyahkan kegelisahan mereka. Pertanyaan sederhana tentang siapa pengasuh pesantren menjadi luka yang tak berani mereka jawab. Hingga pada suatu Subuh, Huda tak sengaja mengambil peran yang telah lama mereka hindari: menjadi imam.
Dari momen itu, terungkap keresahan para santri tua yang ditinggalkan tanpa arah. Huda pun menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan kebetulan, melainkan mandat yang diwariskan—untuk mengisi kekosongan yang mereka tak sanggup isi sendiri.