"Fitrawan, seorang santri fotografer yang gemar merekam vlog, mengikuti lomba film bertema “Santri Memandang Dunia Lewat Lensa Budaya.” Bersama dua temannya, Fathur dan Aiva, ia mulai mendokumentasikan kehidupan pesantren: pengajian, adab salim kepada ustaz, dan upacara Hari Guru. Namun ketika mereka menemukan isu di media sosial yang menuduh pesantren sebagai lingkungan feodal, keyakinan mereka mulai goyah. Mereka pun mencari pembanding dan merekam budaya Enrekang, di mana para tetua adat menjelaskan makna sipakatau (saling memanusiakan) yang ternyata mirip dengan adab pesantren.
Saat mengedit film, mereka menyadari bahwa yang disebut “tunduk” bukanlah takut, melainkan hormat. Ketika hendak mengunggah karya, laptop memutar kembali seluruh rekaman dari awal, menciptakan kesadaran bahwa film yang mereka buat adalah film yang sedang ditonton saat ini. Loop ini menegaskan pesan bahwa adab dan budaya saling merekam, membentuk manusia lintas zaman."